Sabtu, 30 Agustus 2014

Kompasiana Tempat Pembuang Akhir Unek-unek

Beruntung Indonesia punya Kompasiana, kalau tidak maka banyak orang stres karena tidak tersalurkan unek-uneknya. Doeloe ada musim Kotak Pengaduan , disamping susah payah menulis surat juga belum tentu surat itu dibaca dan ditanggapi. Setidaknya bagi mereka yang bisa menulis, Kompasiana dapat menjadi sasaran untuk menghilangkan stres itu.

Sebetulnya Kompasiana bukan barang baru di Indonesia, Surat Pembaca di Kompas juga termasuk dalam penyaluran karya tulis seseorang dengan berbagai maksud tujuan serta gagasan penulisnya, namun Surat Pembaca, oleh redakturnya tak dapat menampung sekian surat dalam sehari media itu cetak. Bayangkan jika Kompasiana dicetak makan boleh jadi jumlah halaman menjadi ratusan lembar dan koran penuh dengan sampah unek-unek.

Berbagai tanggapan terhadap Kompasiana bermunculan, katanya ada pro dan kontra akan keterbukaan, yang memandang blo’on dan intelektual, yang tempat  kumpulan belajar nulis sampai yang profesional, dan yang narsis sampai lempar batu sembunyi tangan. Ini juga menjadi sebuah opini Kompasiana di masyarakat. dari banyaknya orang membicarakan Kompasiana, Kompasiana menjadi populair sepanjang masa di Indonesia.

Isi Kompasiana tidak dapat dijadikan referensi atau rujukan, berkualitas atau kacangan, namun dari hal-hal semacam ini kompasiana laris dikunjungi masyarakat. Tidak saja mereka yang mengisi Kompasiana yang merupakan kompasianer-kompasianer dari seluruh nusantara bahkan ada yang dari luar negeri, tetapi juga mereka yang merasa perlu untuk melihat langsung Kompasiana.

Bagi mereka pemirsa dan juga kompasianer, boleh jadi Kompasiana adalah Tempat Pembuang Akhir (TPA) Unek-unek. Jawabnya memang,   ya!   Lalu bagaimana dengan yang menganggap tulisan di Kompasiana itu bermutu? maka jawabnya yang bermutu harus pembacanya. Publiklah yang mesti kualitas pilihan bacaan. Dan nyata jumlah pengunjung setiap tulisan di Kompasina berbeda-beda. Ada yang laris hinga ribuan pengunjung dan ada yang sama sekali kurang dibaca publik pemirsa Kompasiana. Betapa konyolnya jika diketahui justru tulisan yang konyol malah banyak pengunjungnya. Hah kenaspa begitu? Ternyata Kompasianernya orang pinter juga membuat judul yang menarik untuk dibuka/klik  (bukan dibaca) .

Kompasianer merasa senang menulis di Kompasiana, karena ada rasa kepuasan tersendiri. Sesuatu yang dapat tersalurkan sebagai TPA Unek-unek. Tulisannya juga kadang menyebalkan, menunjukan kwalitas penulisnya, rendahnya gagasan, namun tak sedikit kompasianer yang tulisannya bisa menjadi bahan ajar, bermutu tinggi, menyuguhkan informasi aktual, seperti pilihan nya “menarik”, “aktual”, “inspiratif”, atau “bermanfaat” .  Publik juga yang menilai.

Dari semua itu Kompasiana memiliki kekuatan tersendiri sebagai web yang tetap laris. Karena pembaca yang memberikan penilaian. Wah kalau begitu, kita menilai sampah unek-unek. Boleh jadi ya dan tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar