Prabowo Subianto itu orang cerdas dan berpandangan luas. Buktinya ia dengan sendiri saja sudah mampu mempersiapkan diri untuk menjadi Capres sejak tahun 1990-an dengan membuat organisasi-organisasi kerakyatan agar kelak ia memiliki basis pendukung yang kuat. HKTI adalah bentuk kekuatan basic Prabowo jauh hari sebelumnya.
Bukti kecerdasan Prabowo lain adalah kemampuannya dalam bisnis hingga berhasil sukses. Dan bukti lainnya adalah kemampuannya menguasai bahasa bahasa asing dengan cepat. Sedang di bidang strategi militer termasuk orang yang pantas dimintai nasehatnya karena memiliki banyak pengalaman operasi militer.
Pada pilpres 2009 dimana ia bersama Megawati, Ia mencalonkan sebagai Wakil Presiden. Dalam kampanye-kampanye Prabowo sangat menarik simpati masyarakat. Tampa nashat dari tim sukses , Prabowo banyak bicara tentang masalah pertanian, nelayan, air, dan buruh yang memikat masyarakat pada saat itu. Justru sangat aneh terjadi pada diri Prabowo kini, Mungkin karena menggunakan nasehat-nasehat dari timsesnya yang justru merugikan. Bahkan dalam sebuah kesempatan Debat Capres , Prabowo dengan terang-terangan menyatakan jawaban atas pertanyaan Jokowi yang tidak menuruti nasehat nasehat tim suksesnya.
Kesalahan itu terletak pada pemilihan timses yang tidak berpengaruh mendulang suara seperti penunjukannya pada Mahmud MD sebagai ketua tim pemenangan. Padahal dari teman koalisinya seperi dari Golkar cukup banyak yang piawai menjadi ketua tim p[emenangan sebut saja misalnya Akbar tanjung atau Agung Laksono, atau tokoh tuadari organisasi pendiri Golkar seperti Suhardiman. Pilihan pada Mahmud MD justru kurang membawa suara karena Mahmud sendiri adalah tokoh yang dicalonkan PKB sebagai capres sebelumnya. PKB sendiri menjadi teman koalisi di kubu Jokowi.
Tokoh-tokoh PKS memang kebanyakan adalah orng-orang cerdas, namun Partai ini lebih kuat di lapisan bawahnya ketibang di elit politik. Masa PKS yang berada di lapisan bawah terkenal sangat loyal, namun tokoh-tokohnya semenjak ketua PKS yang lalu kesandung perkara tidak mengundang simpati publik. Kemudian Herutanu juga hanya kuat di pemanfaatkan memiliki media tv. Dia sendiri secara pribadi kurang mendapat pilihan publik yang diidolakan tak seperti Ahok.
Penulis jutru memuji Fadli Zon yang akhirmya harus mengurusi semuanya. Kemudian tokoh sewperti Ical juga hanya pemanfaatan dirinya sebagaio ketua umum Golkar. Namun secara pribadi Ical tak banyak memberikan pengaruh tyerhadap pemilih. Begitu juga Surya Darma Ali (SDA) hanya pem,anfaatan sebagai ketua partai koalisi, sedang SDA sendiri di partai PPP kurang mendapat dukungan.
Kemudian tokoh tim ses lain seperti Tantowi Yahya dan Ahmad Dhani,Roma Irama meski mereka artisnamun tak juga membawa suara banyak untuk memilih Prabowo. Sedang Roma Irama yang berada di kubu Prabowo hanya untuk hiburan semata,
Jika sampai 22 Juli 2014 nanti Prabowo-Hatta tidak unggul dari pasangan capres rivalnya bukan tidak mungkin disebabkan oleh timses yang kurang kreatif mendulang suara. Menjadikan pengalaman berharga bahwa jika kita hendak mencalonkan pada sesuatu tujuan dengan cara persaingan perolehan pemilih/suara, maka apabila memilih timses harus yang mampu mendulang suara. Di pihak Jokowi justru timsesnya adalah orang-orang yang membawa gerbong suara sebut saja misalnya Kofifah , Anis Baswedan, Luhut Panjaitan, Surya Paloh sampai awak grup musik Slank adalah orang-orang kreatif yang juga memiliki gerbong suara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar