Adalah partai Nasdem yang tanpa dirayu-rayu lagi langsung menerima bergabung dengan Capres Jokowi. Sebuah tanda tanya besar mengapa Suya Paloh yang juga calon presiden tampa ragu ragu lagi menerima begitu saja pinangan Jokowi. Saat itu juga sebagian publik dan pengamat mengira Surya Paloh bakal disandingkan dengan Jokowi, namun sungguh diluar dugaan ketika Surya Paloh justru mempersilahkan Joikowi memilih pasangan cawapresnya.
Banyak capres dalam masa sebelum deadline pendaftaran dibuka dan ditutup masih dalam negoisasi [asangan caprers dan cawapres. Surya Paloh justru tampa ragu dan tampa syarat mau mendukung Jokowi bahkan yang pertama kali. Surya paloh sendiri bahkan berani jika kubu Caprses Jokowi tanpa teman partai koaliosi lain. Aneh bukan? Disini letak ketajaman pandangan seorang tokoh politik tingkat tinggi seperti Surya Paloh.
Sebagai seorang yang lama berkecipung di dunia politik , Surya Paloh memang cukup disegani memiliki wawasan dan cara pandang yang ulung. Apalagi lama menjadi orang media. Sepertrinya sudah dapat membaca gelagat siapa Presiden yang akan meneruskan SBY ini.
Sebagai seorang orator justru Surya poloh lebih banyak diam dan jarang mengeluarkan statement saat kampanye pilpres. Beda sekali dengan tokoh lainnya yang berada di kubu capres Jokowi. Ia lebih banyak di balik layar mengatur setrategi sebagaimana kedududkannya dalam koalisi capres Jokowi-Jk sebagai penasehat tim sukses capres Jokowi-Jk.
Sebagaimana tokoh-tokoh politik yang pandai berpidato di Indonesia banyak yang belajar dari Bung Karno. Termasuk diantara tokoh politik seperti Surya Paloh, Prabowo Subianto adalah orator-orator yang banyak diilhami oleh sosok Bung Karno. Lihatr saja pidatonya yang slalu berapi-api.
Surya Paloh yang jebolan Partai Golkar memang tokoh senior dalam jajaran politikus Indonesia dewasa ini. Ketokohannya yang memiliki ciri khas tersendiri membawanya Partai Nasdem ke dalam jajaran Partai besar di Indonesia. Nasdem yang yang tak disangka-sangka dapat meraih posisi dalam jajaran partai-partai besar seperi Golkar, PDIP, Demokrat, Garindra, dan PKB. Padahal partai ini masih tergolong partai yang sangat muda dan baru pertama kali memasuki kancah pemilu legeslatif.
Bahkan ketika Herutanu Sudibyo meninggalkan Nasdem dan bergabung di Hanura, Surya Paloh sudah dapat mmpertimbangkannya untuk melihat dengan matang langkah Herutanu.
Banyak capres dalam masa sebelum deadline pendaftaran dibuka dan ditutup masih dalam negoisasi [asangan caprers dan cawapres. Surya Paloh justru tampa ragu dan tampa syarat mau mendukung Jokowi bahkan yang pertama kali. Surya paloh sendiri bahkan berani jika kubu Caprses Jokowi tanpa teman partai koaliosi lain. Aneh bukan? Disini letak ketajaman pandangan seorang tokoh politik tingkat tinggi seperti Surya Paloh.
Sebagai seorang yang lama berkecipung di dunia politik , Surya Paloh memang cukup disegani memiliki wawasan dan cara pandang yang ulung. Apalagi lama menjadi orang media. Sepertrinya sudah dapat membaca gelagat siapa Presiden yang akan meneruskan SBY ini.
Sebagai seorang orator justru Surya poloh lebih banyak diam dan jarang mengeluarkan statement saat kampanye pilpres. Beda sekali dengan tokoh lainnya yang berada di kubu capres Jokowi. Ia lebih banyak di balik layar mengatur setrategi sebagaimana kedududkannya dalam koalisi capres Jokowi-Jk sebagai penasehat tim sukses capres Jokowi-Jk.
Sebagaimana tokoh-tokoh politik yang pandai berpidato di Indonesia banyak yang belajar dari Bung Karno. Termasuk diantara tokoh politik seperti Surya Paloh, Prabowo Subianto adalah orator-orator yang banyak diilhami oleh sosok Bung Karno. Lihatr saja pidatonya yang slalu berapi-api.
Surya Paloh yang jebolan Partai Golkar memang tokoh senior dalam jajaran politikus Indonesia dewasa ini. Ketokohannya yang memiliki ciri khas tersendiri membawanya Partai Nasdem ke dalam jajaran Partai besar di Indonesia. Nasdem yang yang tak disangka-sangka dapat meraih posisi dalam jajaran partai-partai besar seperi Golkar, PDIP, Demokrat, Garindra, dan PKB. Padahal partai ini masih tergolong partai yang sangat muda dan baru pertama kali memasuki kancah pemilu legeslatif.
Bahkan ketika Herutanu Sudibyo meninggalkan Nasdem dan bergabung di Hanura, Surya Paloh sudah dapat mmpertimbangkannya untuk melihat dengan matang langkah Herutanu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar