Sabtu, 30 Agustus 2014

Kompasiana Tempat Pembuang Akhir Unek-unek

Beruntung Indonesia punya Kompasiana, kalau tidak maka banyak orang stres karena tidak tersalurkan unek-uneknya. Doeloe ada musim Kotak Pengaduan , disamping susah payah menulis surat juga belum tentu surat itu dibaca dan ditanggapi. Setidaknya bagi mereka yang bisa menulis, Kompasiana dapat menjadi sasaran untuk menghilangkan stres itu.

Sebetulnya Kompasiana bukan barang baru di Indonesia, Surat Pembaca di Kompas juga termasuk dalam penyaluran karya tulis seseorang dengan berbagai maksud tujuan serta gagasan penulisnya, namun Surat Pembaca, oleh redakturnya tak dapat menampung sekian surat dalam sehari media itu cetak. Bayangkan jika Kompasiana dicetak makan boleh jadi jumlah halaman menjadi ratusan lembar dan koran penuh dengan sampah unek-unek.

Berbagai tanggapan terhadap Kompasiana bermunculan, katanya ada pro dan kontra akan keterbukaan, yang memandang blo’on dan intelektual, yang tempat  kumpulan belajar nulis sampai yang profesional, dan yang narsis sampai lempar batu sembunyi tangan. Ini juga menjadi sebuah opini Kompasiana di masyarakat. dari banyaknya orang membicarakan Kompasiana, Kompasiana menjadi populair sepanjang masa di Indonesia.

Isi Kompasiana tidak dapat dijadikan referensi atau rujukan, berkualitas atau kacangan, namun dari hal-hal semacam ini kompasiana laris dikunjungi masyarakat. Tidak saja mereka yang mengisi Kompasiana yang merupakan kompasianer-kompasianer dari seluruh nusantara bahkan ada yang dari luar negeri, tetapi juga mereka yang merasa perlu untuk melihat langsung Kompasiana.

Bagi mereka pemirsa dan juga kompasianer, boleh jadi Kompasiana adalah Tempat Pembuang Akhir (TPA) Unek-unek. Jawabnya memang,   ya!   Lalu bagaimana dengan yang menganggap tulisan di Kompasiana itu bermutu? maka jawabnya yang bermutu harus pembacanya. Publiklah yang mesti kualitas pilihan bacaan. Dan nyata jumlah pengunjung setiap tulisan di Kompasina berbeda-beda. Ada yang laris hinga ribuan pengunjung dan ada yang sama sekali kurang dibaca publik pemirsa Kompasiana. Betapa konyolnya jika diketahui justru tulisan yang konyol malah banyak pengunjungnya. Hah kenaspa begitu? Ternyata Kompasianernya orang pinter juga membuat judul yang menarik untuk dibuka/klik  (bukan dibaca) .

Kompasianer merasa senang menulis di Kompasiana, karena ada rasa kepuasan tersendiri. Sesuatu yang dapat tersalurkan sebagai TPA Unek-unek. Tulisannya juga kadang menyebalkan, menunjukan kwalitas penulisnya, rendahnya gagasan, namun tak sedikit kompasianer yang tulisannya bisa menjadi bahan ajar, bermutu tinggi, menyuguhkan informasi aktual, seperti pilihan nya “menarik”, “aktual”, “inspiratif”, atau “bermanfaat” .  Publik juga yang menilai.

Dari semua itu Kompasiana memiliki kekuatan tersendiri sebagai web yang tetap laris. Karena pembaca yang memberikan penilaian. Wah kalau begitu, kita menilai sampah unek-unek. Boleh jadi ya dan tidak.

Prediksi Calon Bupati Kabupaten Tegal, Tengah yang Bakal JawaTerpilih Menurut Jayabayane

1. Di bulan/hari   saat pemilukada Kabupaten Tegal  pada saat itu usia calon Bupati
dan Calon  Wakil Bupati  adalah
usia kebegjaan (kejayaan) yang bersangkutan menurut perhitungan kitab
bethajemuradamakna.
2. Tahun 2013 saat pemilukada Kabupaten Tegal merupakan tahun hoki / rejeki yang
bersangkutan baik dimiliki
cabub maupun cawabub.
3. Ada tanda-tanda aneh yang dirasakan sang calon baik cabub maupun cawabub.
4. Pernah “kekatonen” atau  ”diimpeni“, “ditekani” Juru Demang Ki Gede Sebayu baik
diri sang calon bupati, istrinya atau anak dari sang calon bupati
(kekatonen : sekelebat pernah melihat , diimpeni : bermimpi didatangi, ditekani : ada
seseorang datang ke rumah namun kemudian menghilang.
5. “Raine bening, cahaya memancar, yen ndeleng rai lan gambar raine  langsung inget-
inget kaya sapa ya.”
( Mukanya  jernih, memancarkan cahaya, kalau menjumpai wajahnya baik foto
maupun melihat langsung
yang melihat seakan-akan  bertanya seperti siapa ya).

Indonesia Tidak Memiliki Planing Pembelajaran yang Mantap

Oleh : Agus Warsono
Inilah negara dengan kemajuan dan reformasi berubahan yang tersendat  dan selalu dengan perubahan yang didasari ego pribadi pemimpin dan berujung proyek dan “uang”. Padahal untuk meletakan dasar fondament anak bangsa diperlukan suatu ketetapan perundangan yang mantap. Bukankah dalam Undang-undang Dasar 1945 disebutkan “mencerdaskan kehidupan bangsa” mendasari apa yang disebut Kurikulum itu.
Kiranya untuk mengejar ketertinggalan Indonesia akan ilmu pengetahuan dan teknologi mungkin tidak bisa diumpamakan sebuah nilai “7″  ke nilai “10″ atau membuat SDM putra Indonesia dari pintar ke lebih pintar lagi, namun justru slalu dimulai dari angka “o” .  Adalah kurikulum kita yang slalu berganti  dan berganti pada siapa Menteri Pendidikan dipegang. Meski tidak semua menteri pendidikan slalu berbuat merubah kurikulum, namun rakyat memandang slalu jika ganti mentri ganti kurikulum.
Sebagai contoh tanyakan kepada sepuluh guru sekolah dasar, methoda apa yang terbaik dan cepat utuk anak usia 5-7 th bisa membaca? Maka hasilnya akan lebih dari lima guru SD mengatakan bahwa methoda yang baikuntuk pengajaran membaca anak adal metoda “mengeja”. Metoda mengeja ini adalah methoda yang sangat berhasil membuktikan anak cepat dapat membaca huruf kata dan kalimat dan digunakan pertama kali pada Kurikulum Sekolah Dasar tahun 1975. Methoda ini terkenal dengan istilah methoda SAS.
Lalu kemudian tanyakan kepada 10 siswa tamatan SMA , dimana letak geografis  Indonesia pada dunia? Maka akan didapat kurang dari 5 orang slalu menjawab tidak tahu. Padahan ini dalam kurikulum 1975vadalah materi pelajaran SD. Dulu anak kelas VI SD akan bisa menjawab lantang bahwa Indonesia terletak di antara 6º LU – 11º LS dan 95º BT - 141º BT. Disinilah barangkali yang dimaksud diumpamakan nilai 7 ke nilai 10 itu, tetapi justru kita slalu mulai dari anka 0 (nol).
Syarif Thayeb , Mentri Pendidikan dan Kebudayaan 1974-1978
Daoed Yosoef , Mentri Pendidikan yang tidak merubah kurikulum
Sejak Indonesia merdeka tercatat telah terjadi 11 kali perubahan kurikulum. Kurikulum yang pertama kali dipakai yakni tahun 1947 Kurikulum Rencana Pelajaran. Kemudian berganti menjadi Kurikulum Rencana Pendidikan Sekolah Dasar tahun 1964, Kurikulum Sekolah Dasar tahun 1968. Artinya pada zaman Orde Lama (Orla) atau zaman Presiden Soekarno berkuasa, terjadi 3 kali perubahan kurikulum.
Pada Orde Baru (Orba) atau zaman kekuasaan Presiden Soeharto, terjadi 5 kali pergantian kurikulum. Mulai dari Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) tahun 1973, Kurikulum Sekolah Dasar tahun 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Revisi Kurikulum 1994 pada tahun 1997.
Lalu pada zaman reformasi, jika Kurikulum 2013 diberlakukan artinya terjadi 3 kali perubahan kurikulum. Pertama, Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 dan terakhir Kurikulum 2013 yang mulai diberlakukan di 15 juli 2013 ini.

UJIAN NASIONAL SMA/MA/SMK SELALU RIBUT SETIAP TAHUN

Masalah Ujian Nasional slalu ribut setiap tahun, sebuah gambaran filosofi bagaimana mutu  generasi muda Indonesia ke depan. Pada tahun-tahun sebelumnya selalu setiap tahun diributkan mengenai ketidakjujuran peserta ujian nasional dalam mengerjakan lembar jawaban ujian nasional. Ketidak-jujuran itu bisa dilakukan oleh peserta maupun pihak penyelenggara dikarenakan keraguan, siswa ragu memberikan jawaban dan guru ragu apakah siswanya dapat lulus ujian nasional. Masalah klasik ini telah sejak dulu menjadi bahan temuan di berbagai tempat saat UN  SMA/MA/SMK namun litbang Kemendikbud tak dapat menyimpulkan solusi yang baik untuk penyelenggaraan Ujian Nasional.

UN adalah tingkat uji yang paling tinggi dan paling istimewa bagi siswa SMA/MA/SMK di negara kita,

dimana ujian istimewa ini menentukan nasib seorang siswa setelah belajar selama 3 tahun di kelas 10, 11 dan 12. Hal demikian karena jika seorang siswa hanya memiliki raport naik kelas 11, maka raport naik kelas 11 itu tak berlaku di negara kita untuk melanjutkan keperguruan tinggi atau  melamar pekerjaan apa pun. Terkecuali memiliki ijazah jenjang tersebut. Jadi UN mengikat selama 3 tahun belajar di SMA/MA/SMK.

Dikarenakan istimewa itulah moment UN menjadi harapan sekaligus tantangan yang harus dihadapi siswa, sebab jika gagal siswa bukan merugi 1 tahun tetapi 3 tahun. Karenanya UN menjadi perhatian serius bagi siswa dan guru. Berbagai upaya dilakukan untuk menghadapi UN seperti belajar exstra namun juga banyak siswa yang menganggap sepele UN dikarenakan mengharapkan bantuan dari pihak sekolah. Mereka yang mengangap sepele dan mengharapkan bantuan dari sekolah berkaca pada waktu yang sudah-sudah. Logikanya jika sebuah sekolah tidak berhasil dalam UN atau dalam kata lain siswanya banyak yang tidak lulus UN jangan harap tahun ajaran baru nanti mendapat siswa yang banyak.

Dalih “nama baik” sekolah ini banyak pihak sekolah melakukan upaya demi keberhasilan siswanya mengikuti UN dengan berbagai cara baik positif maupun yang negatif. Dalih nama baik ini juga berpengaruh pada tingkat prosentase kelulusan di Dinas Pendidikan setempat yang pada ujung-ujungnya menjadi nama baik sebuah daerah. UN demikian sangat berdampak luas.

Target kelulusan yang tinggi oleh penyelenggara di kabupaten/propinsi akan membuat kepala sekolah ketakutan akan kemampuan siswanya. Maka tidak mustahil karena menjadi permasalahan berantai di daerah akan dicari format penyelamatan siswa agar lulus UN.

Di pihak orang tua siswa kekhawatiran akan nasib putra-putrinya juga sangat berlebihan. Apalag sebelum UN sekolah sekolah telah merencanakan arahan siswanya ke perguruan tinggi. Berbagai model penerimaan mahasiswa perguruan tinggi negeri ditawarkan untuk siswa sesuai dengan prestasinya oleh pihak sekolah. Namun UN belum tentu lulusnya. Jika sampai begini  orang tua siswa menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Apalagi bagi mereka yang pada tingkat kelas 10 dan 11 mendapatkan prestasi di kalasnya, maka jika gagalan UN akan dipertanyakan oleh orang tua siswa yang berprestasi itu kepada pihak sekolah dengan tuduhan macam-macam. Apalag ketika didapati siswa yang tidak serius menghadapi UN  dapat lulus dengan nilai baik.

Sungguh UN menjadi bahan pemberitaan nasional setiap tahun. Permasalahan klasik yang tidak diatasi secara mennyeluruh oleh pemerintah dalam hal ini Kemendikbud. Masyarakat akhirnya bosan mendengar pemberitaan masalah UN. Kenyataan yang diberitakan tidak ditindaklanjuti kemudian. Seperti yang sudah -sudah yang ketahuan nyontek diberikan ujian ulang, atau ditutup pemberitaannya. Penyelenggaraan yang kurang baik nanti dievaluasi kemudian.

Pada gilirannya mereka yang bodoh dikedokteran  karena menggunakan jalur khusus. Yang tertangkap basah ketika test masuk perguruan tinggi berbuat curang kini bangga dengan almamaternya. Anak  murni dan cerdas sama-sama berjalan saja. Yang cerdas tetapi miskin ada tempatnya ada jalurnya sendiri. Inilah Indonesia. (agus warsono)

Tags:

SWASEMBADA PANGAN DISEPELEKAN

PEMERINTAH SBY sekarang ini , bahkan sejak periode pertama presiden SBY , terliat menyepelekan swasembada pangan rakyat. Dari 200 jt penduduk Indonesia saat ini pangan rakyat masih menggantungkan dari impor beras luar negeri, bakan prosentasenya makin bertambah. Buktinya cek aja beras miskin (raskin), dan beras di pasar-pasar rakyat. Tak perlu melihat laporan angka berapa impor beras Indonesia saat ini. Padahal kita tahu ketahanan pangan adalah ketahanan negara. Dalam ilmu peperangan, misalnya, lumbung perbekalan pangan juga merukakan penentu kemenangan. Nah jika demikian sangat gampang melumpuhkan Indonesia tercinta ini. Sedikit saja embargo impor beras ke Indonesia, maka lumpuhlah Indonesia. Nah.

Krisis Kepercayaan Pada Tokoh-tokoh Nasional, Kini Mulai Mekar Tokoh Daerah yang Siap Menggantikan Tokoh Nasional

Jelang 2014 pilpres berlangsung, Indonesia tampak mulai ada penurunan jumlah tokoh tokoh yang akan mengganti SBY. Nama-nama masih berkutat pada tokoh-tokoh yang 2004-2008 ketika itu , kini masih saja merasa belum puas. Beberapa diantaranya undur diri karena usia lanjut, namun beberapa menyatakan kesiapannya meski usia makin menua. Mereka yang masih merasa muda tentu berkesempatan tampil kembali, dan yang telah lanjut usia beralasan tidak ada batasan usia dan merasa pengabdiannya belum selesai.
Sikap legowo agaknya belum dimiliki secara umum dikalangan tokoh-tokoh senior itu. Tidak tahu apakah mengira mereka mengira apa tidak tokoh muda/baru itu  tak sipintar seniornya, atau memang tak ada lagi orang pintar di negeri ini.
Merasa dibelenggu itu maka bukan tidak mungkin kini akan bermunculan tokoh-tokoh daerah yang mumpuni akan menyatakan siap menggantikan seniornya.
Di taun taun 70 dan 80-an , seorang gubernur cukup populair di tingkat nasional. Mungkin pengaruh TVRI, atau propinsinya juga masih sedikit. Di taun-taun itu beberapa gubernur banyak yang diangkat menjadi mentri dsb.
Kini kesempatan itu tidak ada, namun keberhasilan daerah dengan konsep otonomi daerah maka banyak tokoh-tokoh daerah yang cukup layak dipandang sebaai tokoh nasional dan siap menggantikan para seniornya yang kini sudah tampak tua tua.
Tetapi semua tergantung dari mana tangga itu di pancat. Yang jelas kini tampak tokoh-tokoh daera melanglang ibukota untuk dapat bersaing di kancah tokoh nasional.

Negeri yang Ingin Bebas Korup Tapi Setengah Hati

Adalah Indonesia di 2013 ini. Sebuah negeri yang mendambakan bebas dari korup tetapi cita-cita itu digarap  dengan setengah hati. Sejak masalah korupsi dimasukan dalam ketetapan MPR di awal reformasi, garapan pemerintah yang berkuasa sepenjang era ini sampai sekarang dapat diambil kesimpulan hanyalah dagelan dan suguhan tontonan yang klasik bagi bangsa ini. Karena hasil dari kerja pemerintah yang berkuasa dari mulai pemerintahan BJ Habibie, Abdurrachman Wahid, Megawati, sampai SBY tak ada prestasi yang cukup dinilai baik dalam ukuran nasional tentang garapan pemberantasan korupsi.
Semua hanya omong kosong/ bualan , slogan verbalis, dan program ngambang yang bertujuan untuk membodohi rakyat.
Berapa trilyun uang negara yang dikorupsi dan berapa uang yang kembali, serta berapa oknum yang menjadi tersangka dan berapa orang yang korup dijebloskan penjara masih belum mencapai prosentase yang dapat dinilai baik.
Harapan rakyat kepada penegak hukum akan pemberantasan korupsi sebetulnya sudah dipercayakan pada penyelenggara penegakan hukum itu seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, sampai KPK, namun rakyat hanya menaruh harapan terus menerus tanpa melihat hasil yang berdampak pada perubahan karakter bangsa ini. Malah justru perilaku korup semakin menjadi-jadi. Akhirnya tumpuan harapan kepercayaan itu makin tak jelas dan akhirnya menjadi masa-bodoh dan akhirnya terserah saja pada yang menyelenggarakan pemerintah ini.

Sumpah Jabatan Orang Indonesia Itu Sumpah-Sumpahan

Sudah sejak lama sumpah orang Indonesia itu dipertanyakan mau tahu buktinya? Yakni pada orang-orang yang melakukan sumpah jabatan. Jangankan pada jabatan pegawai negeri yang tanpa jabatan tetapi justru pada para penegak hukum, meski tidak semua, tetapi betapa anehnya ketika kita melihat beberapa kasus korupsi menimpa pada Anggota DPR, Bupati, Gubernur, Menteri, para Pejabat Negara,Gubernur Bank, bahkan pernah pula   pada jabatan hakim, jaksa, jaksa agung, samapai KPK, nah jika demikian sebaiknya format apa yang harus diberikan pada mereka sebelum memangku jabatan. Jika sumpah menurut agama itu tak mempan, maka agaknya perlu mencari format baru selain bersumpah.

Gugat ke MK, Cermin KPU/KPUD ke Depan

Ketika Anggota KPU/KPUD dilantik dengan pengamblian sumpah sesuai agamanya masing-masing adalah sebuah pernyataan bagi KPU untuk berbuat sejujur-jujurnya dalam melaksanakan tugas sebagai pelayan pelaksanaan pemilu di Indonesia. Sumpah ini dipandang oleh masyarakat sebagai jaminan dan yakin bahwa penyelenggara pemilu baik itu pileg, pilbub/pilwalkot, pilkada, maupun pilpres tak akan melakukan tindakan kecurangan atau berpihak tetapi bersikap netral. Sebuah jaminan dengan resiko yang akan ditanggungnya ketika nanti di akherat.

Namum Sumpah terkadang dilupakan mengingat pembalasannya ketika menghadap Tuhannya. Perkara akherat itu urusan nanti. Jadilah sumpah ini seakan sesuatu yang diremehkan yang penting ‘tidak ketahuan mata umum’ .

Sesuai sumpahnya itu Anggota KPU telah digaris aturan. Aturan yang mengikat pelaksanaan pemilu yang menjadi tanggung-jawabnya. Dari mulai pendataan hingga, pengadaan, pendistribusian, pelaksanaan, perhitungan, penetapan suara dan pemberian keputusan sebetulnya mengikat sumpah itu.

Namun demikian KKN slalu mengincar berbagai segi kehidupan ini tak terkecuali di KPU. Benar dan tidaknya pemberitaan serta benar tidaknya adanya kasus di tubuh KPU adalah sebuah cermin untuk membentuk KPU yang lebih profesional ke depan.  Rekrutmen anggota KPU di daerah terkadang bersifat seadanya yang mendaftar sehingga meski dilakukan tes seleksi yang lulus pun seadanya SDM di suatu daerah itu. Terkesan mendadak menjelang pemilu. keadaan seperti ini akan membuat kerawanan pelaksanaan pemilu di suatu daerah , terlebih dengan banyaknya peraturan dan perundangan yang harus diturut dalam pelaksanaan pemilu. Meski ada Panwas atas Bawaslu jika kekurang-profesional-an terjadi maka akibatnya akan muncul kasus-kasus baik disengaja maupun tak disengaja.

Jumlah gugatan baik di ajang pemilu legeslatif, pilbub/pilwalkot, pilkada terbilang cukup banyak. Terlepas siapa yang memenangkan perkara atau siapa yang kalah . adanya gugatan pemilu di suatu tempat akan mengudang publik bertanya-tanya dan menimbulkan polemik tersendiri. Ditambah dengan membengkaknya biaya yang ditanggung pemerintah apalagi sampai diadakan pemilu ulang.

Kini sedang ramai-ramainya profesionalisasi di segala profesi. Anggota KPU sudah selayaknya memiliki profesionalisasiterhadaptugasnya. Akan lebih baik jika tidak bersifat dadakan, seperti sekarang ini dilantik kemudian bekerja.  Tahapan penjaringan anggota KPUD dengan mendapatkan pendidikan cukup sebelum menjadi anggota KPU akan lebih mengarah profesionalisme. Tidak asal pilih , tes kemudian dilantik dan bekerja

Seandainya Anda Timses Juga Begitu

Garindra kini menjadi partai besar (hasil pilleg), partai ini juga dipandang sebagai partai bersih karena belum memegang pemerintahan, pengurus dan tokoh-tokohnya tidak ada yang kesandung KPK, begitu juga Prabowo hampir 46 % dipilih rakyat yang berarti seorang tokoh yag dihormati dan pilihan hampir separuh orang desawa Indonesia. Ia tokoh nasional yang polulair di dalam dan di luar negeri. Beroposisi dengan partainya yang bersih dan berkembang ini sungguh lebih terhormat. Namun teman koalisinya justru menjerumuskan, kerja pemenangan pilpresnya tak kreatif dan tidak inovatif, mesin partai yang mendapat simati rakyat di pilleg menjadi terhambat. Teman yang tidak menguntungkan. Sebagai contoh juga diperlihatkan ketua timsesnya, Mahmud MD, seakan lari dari tanggung jawab, sebuah sifat yang kurang bagus apabila kita semula menjadi timses sebelum dibubarkan sudah lari duluan. Hal yang wajar apabila timses lain yang tentu masih memiliki tugas sebelum timses dibubarkan masih tetap membela Prabowo-Hatta. Seandainya Anda pun menjadi timses tentu akan membela siapa yang mesti didukung sebelum timses dibubarkan. Setelah itu (timses dibubarkan) barulah kita diluar status timses. Hal mengenai menang dan kalah , jujur dan tidak jujur, curang dan tidak curang, akan slalu ada dalam setiap perhelatan event pemilihan baik tertutup maupun terbuka. Kebenaran dan pembenaran hukum kita serahkan pada hukum yang berlaku di negeri ini.

Pilpres Selesai Ganti masalah Mudik, THR, Sembako Mahal, Arus Balik

Geliat masyarakat pasca pilpres mulai beralih setelah penat dalam dua bulan terakhir menyita perhatian siapa Presiden pengganti SBY. setelah KPU mengumumkan hasil pemilu Pressiden dan menyatakan kemenangn terhadap pasangan Jokowi-Jk masyarakat bawah kembali pada rutinitasnya dalam keseharian. Terutama di bulan Ramadhan ini permasalahan yang nyaris tak di sentuh oleh media nasional adalah masalah-masalah Mudik Lebaran yang kemarin terjadi kemacetan akibat ambruknya jembatan Comal di Pemalang Jawa tengah.

Permasalahan mudik yang jauh hari sebelumnya telah disiapkan berupa perbaikan jalan di jalur pantura ternyata masih ada yang luput dari pengawasan dan kewaspadaan pemerintah akan kondisi sarana jembatan penghubung jalan yang sudah berumur tua dan patut diganti. Mudih akhirnya terganggu, jutaan manusia terhanbat dan terlambat sampai rumah.

Begitu pula masalah THR yang masih kurang diperhatikan di berbagai perusahaan, hal demikian dikarenakan belum ada peraturan pemerintah akan THR bagi buruh yang bekerja di perusahaan milik non muslim. Juga mengenai libur dan cuti lebaran yang harus diberikan pada buruh tanpa mengurangi jam kerja yang dihitung gajinya.

Masalah lain adalah masalah kenaikan harga jelang lebaran , Pemerintah harus mengantisipasi adanya lonjakan harga bahan pangan jelang lebaran. Antisipasi stok, serta harga eceran tertinggi patut diperhatikan. Banyak dijumpai keluhan ibu-ibu rumah tangga akan adanya kekurangan-kekurangan bahan pangan yang mengakibatkan mahalnya barang itu.

Kemudia antisipasi arus balik yang juga harus dipersiapkan biasaya arus balik akan lebih besar dari pada arus mudik, meskipun tenggang arus balik memiliki masa yang lebih anjang ketimbang arus mudik.

Demikian pilpres telah selesai dan masyarakat sudah saling menerima sipa kelak nanti presidennya setelah SBY. Pilpres yang menguras , pikiran,  perhatian dan tenaga itu kini telah dilewati dengan aman . Semoga Indonesia tetap aman dan lancar.

Aryo Penangsang pun Diidolakan Rakyat

Siapa bilang sosok seperti Aryo Penangsang itu dibenci rakyat? Buktinya masyarakat daerah Cepu, Blora dan Bojonegoro justru mengidolakan tokoh kontrofersial ini. begitu juga masyarakat daerah lainnya dan kalangan muda pecinta sejarah. Sosok Aryo penangsang dianggap pahlawan  gagah berani, teguh pendirian , memiliki cita-cita besar, cerdas dan sakti mandraguna.

Justru sifat-sifat Aryo Penangsang yang slalu tidak sabaran, Cepat marah dan serampangan tanpa perhitungan ini malah menjadi sebuah perumpamaan lelaki yang gagah harus dimiliki  laki-laki. Demikian masyarakat malah bangga dengan sosok yang “pogal” ini.

Terutama saat membela keluarga. Demikian Aryo Penangsang menjadi sosok tokoh sejarah  yang sering disebut di Jawa. Ia tidak saja menjadi idola namun juga sebgai perlambang dari laki-laki yang memiliki jiwa ksatria.

Di sinilah letak keunikan masyarakat kita, tidak semua yang menurut  orang itu jelek menjadi jelek dimata orang lain, sebaliknya tak semua yang kita anggap  bagus itu menjadi bagus dimata orang lain. Indonesia meliki banyak tokoh-tokoh kontrofersial. Hal demikian dikarenakan sudut pandang apa kita menilainya. Sosok seperti Aryo Penangsang, Untung Suropati, Ken anrok, Jaka Tingkir,  bahkan Malin Kundang justru digemari orang Indonesia.

Demikian sejarah-sejarah Indonesia hingga merdeka banyak disebut tokoh-tokoh yang kontrofersial. Sebuah pandangan masyarakat yang melengkapi pandangannya terhadap tokoh-tokoh ‘kalem’  dan lemah lembut yang disenangi generasi muda.

Diantara pandangan masyarakat itu terkadang tidak suka pada sosok tokoh yang lembek meskipun orang itu jujur dan sakti . Di kisah pewayangan tokoh-tokoh gagah mucul menyaingi Harjuna yang terlihatseperti ‘banci’ seperti Gatootkaca, Kresna, Warkudara, Karna, Kumbokarno dan sebagainya. Perbedaan pandangan masyarakat terhadap sosok tokoh memang sangat wajar dan patut kita maklumi.

Sebetulnya Demokrat Simpan Nama Capresnya Sendiri, Evaluasi Pasca Pilpres

Ada sesuatu yang aneh dalam partai Demokrat, kebijakannya menunggu pendaftar di KPU sebagai capres adalah menyimpan sesuatu perhitungan akan kekuatan partai ini untuk menyaingi tokoh yang sudah dulu mendeklarasikan seperi Joko Widodo (PDIP), Aburizal Bakrie (P Golkar) , dan Prabowo Subianto (P Garindra).

Hingga deadline batas waktu dibukanya pendaftaran , dan fenomena menunjukan pada dua kubu persaingan , Demokrat semakin ‘bingung menentukan pilihannya yang akhirnya bergabung di kubu capres Prabowo. Namun demikian tampak diperlihatkan pada SBY yang dalam kapasitasnya yang mengganggu dirinya sebagai Ketua Dewan Pembina P Demokrat yakni ia masih menjabat sebagai presiden. Karenanya SBY lebih memilih pada posisi netral.

Perhitungan dalam menunggu perkembangan siapa yang positif sebagai capres itu adalah perhitungan kekuatan  calon  pemilih di lapangan dimana tokoh seperti Jokowidodo perlu mendapat lawan yang kuat lagi  dalam pilpres. Itulah sebabnya karena Prabowo Subianto berhasil meyakinkan lima partai dan bergabung dalam koalisinya, maka tak ada harapn lain bagi Demokrat untuk mau tidak mau bergabung dengan koalisi Merah Putih-nya Prabowo, sebab jika tidak, maka diatas kertas capres Joko Widodo yang  kian populair itu sulit disaingi.

Bahkan ketika muncul isu poros tengah atau ketika golkar mengajak bergabung dengan Demokrat tetap Demokrat berdiam diri. Hal demikian karena partai ini telah memperhitungkan masak bahwa untuk melawan tokoh fenomental seperti Jokowi perlu penggabungan partaiang besar. Jika capres ada tiga maka justru lebih menguntungkan Jokowi.

Dengan banyak bergabungnya partai di koalisi Marah Putih untuk memenangkan Prabowo subianto-Hatta Rajasa maka Demokrat pun turut bergabung malu-malu.

Tentu saja ini bisa jadi mengecewakan masa Demokrat apalagi melihat sikap SBY yang seperti mendua diantara Prabowo dan jokowi, namun kita semua maklum adanya  karena seorang presiden.

Negarawan Itu Tak Mesti Presiden

Negarawan dalam sudut pandang psikologis adah pemilik jiwa kebangsan yang slalu mengutamakan keselamatan negara. Sejarah perjuangan kemerdekaan telah mengorbankan banyak mahaputra demi Tanah Air. Beberapa tokoh perjuangan pergerakan kemerdekan seperti Ali Sastroamidjojo, Tan Malaka, H Agus Salim, Suardu Suryaningrat, dan lain-lain adalah seorang negarawan dalam kiprahnya sebagai pemimpin pemimpin bangsa.

Dalam cerita pewayangan Kumbokarno (adik Dasamuka), meski tak menjadi raja adalah seorang yang memiliki jiwa kenegarawan. Ia bukan membela kakaknya yang terkenal jahat, tetapi negara harus tetap diselamatkan.

Hal kata ‘negarawan.  menyimpan juga makna makna mengalah demi menjaga kesatuan -persatuan negara (bahasa Jawa : legowo). Ini diibaratkan sebagai seorang kesatria yang rela nyawanya dikorbankan demi negara.

Presiden secara personal memang seorang negarawan, namun belum tentu memiliki pengertian negara dalam sudut pandang spikologis jiwa kebangsaan. Boleh jadi ia duduk di kursi presiden hanya karena kekuasaan, keturunan, bahkan harta.  Presiden yang memiliki jiwa kenegarawanan adalah seorang pribadi presiden yang senantiasa mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi atau keluarganya, atau kelompoknya.  Namun sebaliknya seorang tokoh meski tanpa menduduki sebagai presiden jika pengorbanannya terhadap neegara sangat luar biasa dalam ukuran nasional adalah juga seorang negarawan.

Dalam sudut pandang popularitas ketokohan memang memang seorang yang disebut negarawan harus populair baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Meski bukan seorang presiden dengan aktifitasntnya mengurus negara sehingga populair tak jarang orang menyerbutnya sebagai negarawan.

Surya Paloh Miliki Ketajaman Siapa Presiden Indonesia

Adalah partai Nasdem yang tanpa dirayu-rayu lagi langsung menerima bergabung dengan Capres Jokowi. Sebuah tanda tanya besar mengapa Suya Paloh yang juga calon presiden tampa ragu ragu lagi menerima begitu saja pinangan Jokowi. Saat itu juga sebagian publik dan pengamat mengira Surya Paloh bakal disandingkan dengan Jokowi, namun sungguh diluar dugaan ketika Surya Paloh justru mempersilahkan Joikowi memilih pasangan cawapresnya.

Banyak capres dalam masa sebelum deadline pendaftaran dibuka dan ditutup masih dalam negoisasi [asangan caprers dan cawapres. Surya Paloh justru tampa ragu dan tampa syarat mau mendukung Jokowi bahkan yang pertama kali. Surya paloh sendiri bahkan berani  jika kubu Caprses  Jokowi tanpa teman partai koaliosi lain.  Aneh bukan? Disini letak ketajaman pandangan seorang tokoh politik tingkat tinggi seperti Surya Paloh.

Sebagai seorang yang lama berkecipung di dunia politik , Surya Paloh memang cukup disegani memiliki wawasan dan cara pandang yang ulung. Apalagi lama menjadi orang media. Sepertrinya sudah dapat membaca gelagat siapa Presiden yang akan meneruskan SBY ini.

Sebagai seorang orator justru Surya poloh lebih banyak diam dan jarang mengeluarkan statement saat kampanye pilpres. Beda sekali dengan tokoh lainnya yang berada di kubu capres Jokowi. Ia lebih banyak di balik  layar mengatur setrategi sebagaimana kedududkannya dalam koalisi capres Jokowi-Jk sebagai penasehat tim sukses capres Jokowi-Jk.

Sebagaimana  tokoh-tokoh politik yang pandai berpidato di Indonesia banyak yang belajar dari Bung Karno. Termasuk diantara tokoh politik seperti Surya Paloh, Prabowo Subianto adalah orator-orator yang banyak diilhami oleh sosok Bung Karno. Lihatr saja pidatonya yang slalu berapi-api.

Surya Paloh yang  jebolan Partai Golkar  memang tokoh senior dalam jajaran politikus Indonesia dewasa ini. Ketokohannya yang memiliki ciri khas tersendiri membawanya Partai Nasdem ke dalam jajaran Partai besar di Indonesia. Nasdem yang yang tak disangka-sangka dapat meraih posisi dalam jajaran partai-partai besar seperi Golkar, PDIP, Demokrat, Garindra, dan PKB.  Padahal partai ini masih tergolong partai yang sangat muda dan baru pertama kali memasuki kancah pemilu legeslatif.

Bahkan ketika Herutanu Sudibyo meninggalkan Nasdem dan bergabung di Hanura, Surya Paloh sudah dapat mmpertimbangkannya untuk melihat  dengan matang langkah  Herutanu.

Timses prabowo Kurang Kreatif Dulang Suara, Padahal Prabowo Itu Cerdas, Evaluasi Pasca pilpres

Prabowo Subianto itu orang cerdas dan berpandangan luas. Buktinya ia dengan sendiri saja sudah mampu mempersiapkan diri untuk menjadi Capres sejak tahun 1990-an dengan membuat organisasi-organisasi kerakyatan agar kelak ia memiliki basis pendukung yang kuat. HKTI adalah bentuk kekuatan basic Prabowo jauh hari sebelumnya.
Bukti kecerdasan Prabowo lain adalah kemampuannya dalam bisnis hingga berhasil sukses. Dan bukti lainnya adalah kemampuannya menguasai bahasa bahasa asing dengan cepat. Sedang di bidang strategi militer termasuk orang yang pantas dimintai nasehatnya karena memiliki banyak pengalaman operasi militer.
Pada pilpres 2009 dimana ia bersama Megawati, Ia  mencalonkan sebagai Wakil Presiden. Dalam kampanye-kampanye Prabowo sangat menarik simpati masyarakat. Tampa nashat dari tim sukses , Prabowo banyak bicara tentang masalah pertanian, nelayan, air, dan buruh yang memikat masyarakat pada saat itu. Justru sangat aneh terjadi pada diri Prabowo kini, Mungkin karena menggunakan nasehat-nasehat dari timsesnya yang justru merugikan. Bahkan dalam sebuah kesempatan Debat Capres , Prabowo dengan terang-terangan menyatakan jawaban atas pertanyaan Jokowi yang tidak menuruti nasehat nasehat tim suksesnya.
Kesalahan itu terletak pada pemilihan timses yang tidak berpengaruh mendulang suara seperti penunjukannya pada Mahmud MD sebagai ketua tim pemenangan. Padahal dari teman koalisinya seperi dari Golkar cukup banyak yang piawai menjadi ketua tim p[emenangan sebut saja misalnya Akbar tanjung atau Agung Laksono, atau tokoh tuadari organisasi pendiri Golkar seperti Suhardiman. Pilihan pada Mahmud MD justru kurang membawa suara karena Mahmud sendiri adalah tokoh yang dicalonkan  PKB  sebagai capres sebelumnya. PKB sendiri menjadi teman koalisi di kubu Jokowi.
Tokoh-tokoh PKS memang kebanyakan adalah orng-orang cerdas, namun Partai ini lebih kuat di lapisan bawahnya ketibang di elit politik. Masa PKS yang berada di lapisan bawah terkenal sangat loyal, namun tokoh-tokohnya semenjak ketua PKS yang lalu kesandung perkara tidak mengundang simpati publik. Kemudian Herutanu juga hanya kuat di pemanfaatkan memiliki media tv. Dia sendiri secara pribadi kurang mendapat pilihan publik yang diidolakan tak seperti Ahok.
Penulis jutru memuji Fadli Zon yang akhirmya harus mengurusi semuanya. Kemudian tokoh sewperti Ical juga hanya pemanfaatan dirinya sebagaio ketua umum Golkar. Namun secara pribadi Ical tak banyak memberikan pengaruh tyerhadap pemilih.  Begitu juga Surya Darma Ali (SDA) hanya pem,anfaatan sebagai ketua partai koalisi, sedang SDA sendiri di partai PPP kurang mendapat dukungan.
Kemudian tokoh tim ses lain seperti Tantowi Yahya dan Ahmad Dhani,Roma Irama  meski mereka artisnamun tak juga membawa suara banyak untuk memilih Prabowo. Sedang  Roma Irama yang berada di kubu Prabowo hanya  untuk hiburan semata,
Jika sampai 22 Juli 2014 nanti Prabowo-Hatta  tidak unggul dari pasangan capres rivalnya bukan tidak mungkin disebabkan oleh timses yang kurang kreatif mendulang suara. Menjadikan pengalaman berharga bahwa jika kita hendak mencalonkan pada sesuatu tujuan dengan cara persaingan perolehan pemilih/suara, maka apabila memilih timses harus yang mampu mendulang suara. Di pihak Jokowi justru timsesnya adalah orang-orang yang membawa gerbong suara sebut saja misalnya Kofifah , Anis Baswedan, Luhut Panjaitan, Surya Paloh  sampai awak grup musik Slank adalah orang-orang kreatif yang juga memiliki gerbong suara.

Status FB-Mu tentang Pilpres Lucu-lucu

Membaca status temanku lucu-lucu tentang pilpres 2014 ini
Ada yang membela salah satu pasangan capres sampai apa pun hasilnya.
Ada yang semula membela pasangan capres ‘A beralih ke ‘B atau sebaliknya , mungkin banyak terpengaruh status lain.
Ada yang juga yang gonta-ganti membela pasangan capres, sekadar komentar menyenangkan pemilik status
Ada yang menghilang dalam pembelaannya terhadap pasangan capres.
Ada yang semakin bersemangat
Ada juga yang bersemangat pada awalnya kemudian menyadari apa yang terjadi berpindah haluan.
Itu semua kawan-klawanku, karenanya jangan dijadikan serius-serius amat.

Kualisi Permanen Kenapa Tidak Fusi Saja

Sepertinya di DPR pun tetep gontok-gontokan padahal fungsi DPR kan sebagai wakil rakyat yang yang dalam kedudukannya tidak hanya menyampaikan aspirasi tetapi juga berada di pihak rakyat dengan melepas baju partainya dan secara perseorangan mewakili rakyat duduk di DPR walau pun sebagai wakil dari sebuah partai peserta pemilu dan ia kedudukannya sebagai anggota DPR bagi rakyat Indonesia

Begitu juga presiden, dari mulai dilantik dan memegang jabatan itu ia adalah presiden seluruh rakyat Indonesia dan bukan presiden dari partai ia berasal atau presiden dari koalisi partai apa ia berasal

Jika sampai terjadi ada koalisi parlemen, dan di parlemen terdapat dua kubu koalisi, maka anggota DPR hanya memiliki 2 pilihan, berarti ini seperti kita memiliki hanya 2 partai di parlemen, seperti di Amerika itu.

Oleh karena menginginkan suara yang kuat di legeslatif maka th 1970, 1977, dan 2004 , dan 2009, 2014 partai-partai memfusikan diri. Semakin sedikit jumlah partai di parlemen maka semakin mengerucut suara. Namun demikian ketika di DPR hanya terdapat tida partai seperti zaman Orde Baru, Golkar sebagai partai besar tidak selalu meng-gol-kan sebuah keputusan di DPR langsung menjadikan keputusan tetapi tetap membutuhkan legeslatif itu.

Berkacalah pada Bumbung Kosong

Bumbung Kosong demikian sebutan untuk tidak memilih calon Kepala Desa dikarenakan Pemilihan Kepala Desa hanya diikuti seorang peserta. Bumbung kosong bisa berbentuk kotak kosong tanpa nama, di surat suara pun tak ada gambar maupun nama (seandainya menggunakan surat suara) dan seandainya menggunakan alat lain,  bumbung tak bernama disediakan untuk diisi bagi pemilik suara yang tidak menghendaki calon kepala desa yang seorang itu.

Bumbung kosong menjadi alternatif pilihan walau pun calan hanya seorang dan pemilihan kepala desa harus dilaksanakan. Ia menjadi tempat ketidak-setujuan warga desa atas sosok calon kepala desa, juga menjadi tempat bersemayam berbagai ketidak-setujuan warga atas sistem pelaksanaan dan sebagainya. Bumbung kosong juga menampung suara-suara golput.

Ini Indonesia negeri yang unik. Orang disuruh memilih sesuatu yang tidak ada dalam suatu pemilihan aparatur negara yakni Kepala Desa. Lucu kelihtannya, bukan? Karena yang tidak ada itu menjadi pilihan maka ada pemilihnya, bahkan sering terjadi Bumbung Kosong memenangi pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa.

Bukan itu saja Indonesia menjadi negri yang  unik, namun juga menyimpan misteri. Bumbung kosong menjadi sosok yang menakutkan bagi pesaingnya yang hanya seorang itu. Karena menjadi alternatif pilihan bumbung kosong menjadi memiliki “roh” seakan hidup dan memiliki kekuatan, padahal bumbung kosong tanpa gerak, tanpa tim sukses, tanpa strategi, dan tanpa pos komando serta majikan.

Rakyat Indonesia ternyata biasa dihadapkan pada pilihan ya atau tidak, setuju atau tidak setuju, ada atau tidak ada, memilih atau tidak memilih. Desa ditentukan oleh warga desanya. Demokratis yang mengakar di masyarakat.

Bagi tim sukses Calon Kepala Desa yang hanya seorang itu justru dihadapkan pada kerja keras untuk memenangkan pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa itu karena berhadapan dengan musuh yang tidak diketahui. Kerja tim sukses untuk meraih banyak suara tetap dilakukan. Semakin kuat tim sukses calon kepala desa yang hanya seorang itu bekerja, semakin kuat Bumbung Kosong itu, padahal di pihak Bumbung kosong tak ada yang bergerak,  tak ada yang mewakili seorang pun. Itulah ‘roh’ Bumbung Kosong.

Kecintaan pada kampung halaman adalah kecintaan warga kampung itu, mereka tak mau Desa terbaiknya tanpa kepala desa, tanpa lambang pemimpin, tanpa ada sosok pucuk pimpinan yang mengatur keadaan desa dan warganya, jadi calon yang seorang itu adalah putra terbaik desa yang harus dipilih. Sebaliknya warga desa pun tak mau mengorbankan desanya sehingga bumbung kosong menjadialternatif untuk menunggu sampai kemudian kelak akan ada pemilihan berikutnya dengan calon yang lebih baik.

Ketika pemilihan kepala desa itu dilaksanakan dan dihitung angkanya. Apa mau dikata Bumbung Kosong pemenangnya. Sebaliknya  ketika Bumbung kosong itu kalah dan pemenangnya pada calon yang seorang itu, maka betapa lucunya seseorang bertarung dengan sesuatu yang tidak ada namun dilaksanakan di ajang Pemilihan Kepala Desa yang mengeluarkan biaya dan tenaga yang besar.

Bersyukur Republik ini  miliki dua pasang capres-cawapres dalam pilpres 2014 ini.  Mereka dua orang capres dan dua orang cawapres adalah putra terbaik bangsa ini. Siapa yang terpilih pasti adalah yang terbaik untuk bangsa ini. Semoga tak akan terjadi Bumbung kosong di Pemilu Presiden Republik ini agar kita tidak merugi.

Orang Indonesia Paling Susah Menerima Kekalahan

Orang Indonesia Itu Paling Susah Menerima Kekalahan
oleh Rg Bagus Warsono
Demikian sejarah Indonesia menulis, karakter manusia Indonesia yang sulit menerima kekalahan. Bahkan karena yakinnya akan kemenangan sebuah nasehat slalu mengatakan bahwa kekalahan “hanyalah kemenangan tertunda”.

Zaman penjajahan doeloe banyak pertempuran-pertempuran melawan penjajhan diceritakan oleh para sejarahwan slalu berujung kemenangan, sehingga berujung muncul beberapa tokoh pahlawan nasional. Sebuah peperangan biasanya diambil menghitung jumlah prajurit, logistik, persenjataan, perjanjian, wilayah kekuasaan, pampasan dan pengakuan. Namun orang Indonesia slalu memunculkan sisi kemenangan di salah satu segi kreteria perhitungan hasil kemenangan. Jika banyak prajurit yang gugur, slalu sejarawan menyebutkan bahwa ‘beruntunglah bawaha pimpinan peperangan itu (raja, senopati, dsb) masih selamat. Jika sampai ada raja yang menyerah tanpa syarat, dimunculkan tokoh lain agar kekalahan tak terjadi.

Keunikan Indonesia ini sampai pula pada masa perang kemerdekaan. Ada beberapa perjanjian dengan pihak penjajah yang merugikan kita. Namun karena Indonesia itu tak begitu sajatunduk pada perjanjian, maka slalu perjanjian itu dibatalkan . Disinilah atas dasar rasa cinta Tanah Air kita tak akan mau menerima kekalahan pada masa itu.

Keteguhan tidak mau menerima kekalahan itu juga dibuktikan oleh Diponegoro, meski sudah ditangkap, pantang baginya untuk menyerah. Begitu juga Soekarno, tak ada kata menyerah meski harus mengalami penjara/hukuman ataupu pembuangan.

Terakhir sudah jelas-jelas kekalahan politik saat terjadi jajak pendapat tentang Timor Timur , tetap saja orang Indonesia mengatakan nan memungkiri sebuah kekalahan politik Indonesia.

Di bidang olah raga misalnya, meski kalah bertanding, slalu media kita memberikan kesan menghibur diri, dengan memberikan sanjungan akan perjuangan mati-matian membela nama bangsa ini.

Karakter ’susah menerima kekalahan’ ini melekat erat dengan sifat orang jawa yang slalu menyebut kata ‘beruntung’ bila terjadi kegagalan bahkan terjadi kecelakaan. Untung masih ada……….., untung masih hidup , untung diselamatkan, untung masih bisa dibayar, untung tidak ketinggalan , dan sebagainya.

Karakter susah menerima kekalahan ini di diwariskan juga oleh budaya nenek moyang kita. cerita-cerita kepahlawanan slalu berujung kemenangan. Cerita ludruk dan wayang slalu dimenangkan oleh tokoh yang diidolakan rakyat. Sehingga begitu tertanam di hati anak-anak kita jiwa kesatria yang pantang menyerah.

Begitu juga falsafah-falsafah digunakan dalam berbagai organisasi, “pantang menyerah’, ‘pantang putus asa’, ‘pantang mundur’, dan berbagai semboyan kedaerahan seperti ’sekali layar terkembang , pantang surut kepantai’, “rawe-rawe rantas malang-malang putung” sebagai perumpamaan agar segala yang merintangi maksud tujuan harus disingkirkan.

Demikian keistimewaan orang Indonesia. Jika orang Barat mengatakan menyerah itu sebagai gentelmant, maka sebaliknya orang Indonesia kebanyakan untuk mau mengakui kekalahan itu justru sebagai orang yang dituduh penakut, bukan ksatria , kurang gentelmant.

Sekali lagi kegagalan itu hanyalah kemenangan tertunda begitu kata banyak motivator. Kita belum siap menerima kekalahan. Menerima kekalahan berarti malu . Dan malu ini dianggap sampai anak cucu. Meski ada juga orang yang legowo dan mau menerima kekalahan , hanya terdapat pada orang-orang yang menyadari bahwa setiap pertarungan bentuk apa pun slalu ada kalah dan menang. ***

TENTANG WAHYU KERATON YANG TERDAPAT PADA CALON PRESIDEN/RAJA

Untuk melihat tanda - tanda capres mana yang memiliki ’sinar matahari’ (”wahyu keraton) itu terdapat ciri-ciri yang biasa melekat seperti :
a. Raine kadang sumorot bercahaya
b. Raine kadang berganti ganti (mirip - mirip si A atau si B, namun bukan ‘mencala putra-mencala putri)
c. Ada dimana-mana secara ujug-ujug
d. Yen anggon-anggon (berpakaian keraton /resmi ) sudah mirip raja atau presiden.
e. meseme ora kepaksa

(Rg Bagus warsono)

Tentang “Matahari di balik punggung calon Raja/Presiden

Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto adalah ulama besar Indonesia saat itu di Jawa Timur, disamping seorang kiyai juga seorang guru silat olahkanuragan. Ia melihat 2 matahari diantara Kusno (Soekarno) dan Kartosuwiryo. Tak mungkin kedua matahari memimpin Nusantara ini. Sebagai orang tuayang bijak tidaklah baik untuk menghendaki keduanya bersiteru saling membunuh. Jadialah kelak dua orang seperguruan ini menjadi raja. Meski Karto Suwiryo berada dihutan-hutan, Bungkarno yang presiden RI ini tetap mengakuinya sebagai saudara dan “Raja” Indonesia dalam hutan.

Kisah tentang “matahari bersinar” juga dilihat oleh Sunan Kudus terhadap prajurit tamtama bernama Maskarebet, kenapa tidak pada putra mahkota? Atau kerabat / saudara Sultan lainnya? Inilah Indonesia sejak Daha, Kediri, Singosari, Majapahit memberikan gambaran bahwa Waris itu belum tentu Pewaris tahta. Akhirnya lambang-lambang negara Demak pun jatuh ke tangan Maskarebet anak kampung yang terkenal dengan sebutan Joko Tingkir dengan mendirikan kerajaan Pajang sebagai menerus tahta Demak.

Begitu juga Sultan Hadiwijaya ( Maskarebet/Joko Tingkir) selanjutnya , entah mengapa ’sinar matahari ‘ justru bersinar di punggung anak angkatnya, Sutawijaya. Sedang putra mahkota Pangeran Benawa tampak suram tanda-tandanya. Jadilah penerus tahta Pajang itu ke Mataram kepada Sutawijaya yang bergelar Senopati ing Alogo. Sekali lagi waris belum tentu pewaris. Dan ini Indonesia bukan kerajaan Inggris atau Belanda .

Bukti-bukti sejarah semua serba mungkin, bayangkan anak tukang kayu di pinggir hutan aja bisa menjadi raja, contohnya adalah Ken Angrok ! Kemudian Mas Karenet anak kampung pinggiran di Tingkir, lalu Sutawijaya semua bukan waris tapi pewaris !

Dari itu semua, bukan mustahil apabila ada anak orang miskin menjadi ”raja” (presiden ) Indonesia ini.

Dan sebetulnya diantara dua calon presiden itu , orang yang memiliki keistimewaan ‘linuwih’ dan ‘waskita’ akan dapat melihat sinar ‘matahari di punggung diantara dua capres kita itu. Siapa capres yang memiliki sinar itu sebaiknya tanyakan pada yang orang yang memiliki linuih dan waskita dibidangnya.

Yang Terlewatkan Oleh Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden

1.Pendadaran

Yakni tahapan pendidikan khusus pemimpin (untuk Presiden/Wakil Presiden) yang dilakukan oleh maha guru (bisa dilakukan oleh guru bangsa di masa kini)

2. Slametan Matur Tangga Kiwe Tengen

Permisi dengan tetangga kanan kiri di rumahnya dengan upacara slametan dengan mengundang tetangga kiri kanan rumah depan belakang untuk mencicipi hidangan alakadarnya sebagai tanda pamit untuk berlaga.

3. Slametan Sega Ponggol

Yaitu slametan gelar pasukan untuk membekali prajurit yang hendak berperang (berlaga dalam kampanye)

4. Matur Tiwas

Permisi kepada rekan sepadan ilmunya atau lebih tinggi ilmunya atau sepadan derajatnya atau lebih tinggi derajatnya dengan mengunjungi ke rumah mkasing-masing.

5. Slametan Gelar Perang

Slametan umum bersama tim sukses (seluruh pasukan) agar mereka kompak dalam komando serta berjuang untuk pemenangan sungguh-sungguh.

6. Slametan bersih dari duri atau musuh dalam selimut. Bersih-bersih di rumah dengan bubur abang dan bubur putih.

rg, RgBagus Warsono

Jika Aku Presiden yang Mau Lengser Aku Akan

Jika aku seorang presiden dan akan mengakhiri jabatanya, maka yang aku perbuat adalah menghitung banda kaya dan meninggalkan kesan baik kepada semua orang.

Jika aku seorang presisiden dan beberapa bulan lagi akan lengser, maka yang akan aku kerjakan adalah merasakan yang belum aku rasakan semenjak menjabat menjadi presiden , misalnya berkunjung ke negeri yang belum aku kunjungi, dan bukan membuat kisruh pergantian presiden yang slalu terjadi di indonesia.

jika aku seorang presiden dan tinggal menunggu hari besok akan menjadi rakyat biasa maka selagi sekarang masih duduk, aku akan manfaatkan sebaik-baiknya untuk sosial agar aku dikenang rakyat sebagai presiden yang baik. Dan saya tidak akan memprofokatori rakyat sendiri untuk membenci seseorang yang jelas akan merugikan saya sendiri.

Jika aku seorang presiden yang habis masa jabatanya dan tak mungkin lagi berkiprah di dunia politik maka selagI masih duduk menjabat seperti sekarang ini aku akan memberikan sesuatu pada rakyat untuk melaksanakan pesta demokrasi pemilihan presiden dengan penyelenggaraan yang betul betul demokratis sehingga aku dikenang sebagai presiden yang menjunjung demokrasi. Dan saya tentu tidak membuat statement hitam pada capres siapa pun.

Jika aku seorang presiden yang sudah ujur dan tinggal menunggu maut, maka yang aku kerjakan adalah mmendekatkan diri pada Allah serta beribadah dan sosial selagi masih banyak kesempatan. Dan saya tidak mengadu domba rakyat dengan statement-statement saya karena rakyat akan menilai saya kurang berpendidikan.

Koalisi Arus Bawah

Bohong Jika Koalisi itu bukan bagi-bagi/jual-beli kursi mentri, semua maunya minta yang banyak !

Jika kabinet yang akan datang jumlahnya seperti kabinet Indonesia Bersatu II seperti sekarang, maka akan ada 3 mentri koordinator, 31 Mentri, 4 pejabat negara setingkat mentri, 1 sekretaris kabinet, dan 2 kepala badan serta 17 wakil mentri total jumlahnya 41 orang sedangkan yang 17 wakil mentri biasanya dari jabatan karier di departemen tsb.

sinonim kata koalisi : aliansi, blok, federasi, gabungan, kombinasi, konfederasi, liga, pakta, peleburan, penggabungan, persekutuan, perserikatan, sosiasi, uni, unifikasi,

Demikian sinonim kata ‘koalisi’, kamun KBBI memberikan arti 1. kerja sama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dl parlemen: kabinet — itu didukung oleh tiga partai politik yg besar;

ber·ko·a·li·si v bekerja sama antara beberapa partai dsb: ketiga partai oposisi telah sepakat untuk ~

Tak disebut dalam keterangan bahwa koalisi itu memerlukan perjanjian - perjanjian yang mengikat diantara partai itu, sebab boleh jadi koalisi itu hanya mengikat pada butir-butir perjanjiannya saja. Pengalaman membuktikan setelah butir-butir perjanjian itu terlaksana partai-partai yang tadi berkoalisi kurang akur dalam hal lain.

Kenyataan membuktikan bahwa isi perjanjian koalisi, misalnya dua partai yang melaksanakan koalisi, hanya berisi : pembagian jatah kursi mentri dan pejabat negara, besaran dukungan kampanye (nominal rupiah), kesepakatan memilih capres/cawapres, perlindungan hukum bagi yang punya perkara, menggolkan proyek , dan jatah kursi duta besar ! Jadi mana untuk rakyat?

Jika demikian peran koalisi partai tak menguntungkan bahkan tak berpengaruh bagi kesejahteraan rakyat, koalisi mereka hanyalah melaksanakan butir-butir perjanjian yang menguntungkan bagi kedua belah pihak saja.

Bukti menunjukan bahwa isi perjanjian koalisi, misalnya dua partai yang melaksanakan koalisi, hanya berisi : pembagian jatah kursi mentridan pejabat negara, besaran dukungan kampanye (nominal rupiah), kesepakatan memilih capres/cawapres, perlindungan hukum bagi yang punya perkara, menggolkan proyek , dan jatah kursi duta besar ! Jadi mana untuk rakyat?”

Keterlibatan rakyat tak dilibatkan dalam perjanjian koalisi, karena itu tak perlu rakyat menuruti koalisi partainya.

Lebih bagus lagi membuat koalisi di arus bawah, dan tidak menuruti koalisi partai, sehingga rakyat tetap bersatu, Isi koalisi arus bawah itu misalnya barsatu dalam mengadili lewat pengadilan publik , siapa yang tidak becus dan penghianat negara, patut dihinakan oleh rakyat. Tentu tidak dengan cara berpuisi atau pementasan drama , kurang greget itu, ya misalnya nulis aja di dunia maya untuk mereka yang kurang becus itu.

Survei Orang-orang Golput, Pasca Pemilu Legeslatif

Survai ini tidak ada yang membiayai, terserah Anda menilaianya. Ternyata orang-orang golput itu macam-macam . Mau tahu hasil survainya  silahkan baca.
Survai dilakukan pada pukul 06.00 pagi sampai pukul 12.00 tanggal 9 April 2014.

1. Masa bodoh
Masih banyak yang tidak ambil pusing urusan negara. (20%)

2. Jenuh
Bosan dengan itu-tu melulu tapi tak kunjung perubahan ke arah kebaikan (15%)

3. Apa kata nanti
Frustasi mengakibatkan pasrah dengan apa yang akan terjadi terjadilah (15%)

4. Cari selamat
Yang penting selamat diri dan keluarganya. Ikuti yang ramai saja tanpa menilai
yang lagi ramai itu apa. (22 %)

5. Ambil hikmahnya saja (3%)\
Sama seperti menerima apa yang teerjadi sebagai karuniNya.

6. Nyeleneh (2%)
Bentuk perlawanan hati, berbuat untuk menarik perhatian

7. Pura-pura tidak tahu apa yang terjadi (2.5%)
Slalu meberikan pertanyaan: “ada apa sih?’ ; “aku baru tahu itu”, atau manggut-
manggut mengiyakan saja.

8. Sok kuminter  (10%)
Slalu tak ada pilihan

9. Bunglon (2.5%)
Mana yang menguntungkan dia hinggap

10.Munafik
slalu berpura-pura bila diajak lawan bicara dan slalu memihak lawan bicara (2%)

11.Intelektual palsu
Bicaranya slalu dengan dasar hukum, referensi, dan kutipan-kutipan ilmuwan
(2%)

12.Asyik dengan hartanya
Menyombongkan diri dengan harta, anggapannya semua bisa dibel;i dengan
harta. (1 %)

13. Telmi (telat mikir) atau slalu tidak percaya (1.5%)
Ia akan yakin kalau peristiwanya terjadi dirasakan sendiri.

14. Memilih diam (0.5%)

Mengapa Caleg Jadi Utamakan Balik Modal Dulu

Hanya sekadar bagi hasil pengamatan :
INI PENGELUARAN CALEG DARI AWAL SAMPAI 9 APRIL 2014
Begitu banyak pengeluaran seorang calon legeslatif yang belum tentu jadi, namun tetap saja banyak yang kepingin.
Sebentar aku hitung pengeluaran :
*Biaya rekayasa popularitas dan berpengaruh
*Biaya daftar bakal calon di partai
*Biaya daftar adm persyaratan bakal calon
*Biaya kepastian calon tetap
*Biaya kontribusi kampanye partai
*Biaya sosialisasi (spanduk, iklan pariwara, baliho, ucapan selamat, dsb.)
*Biaya Konsumsi rapat-rapat tim sukses
*Biaya honor tim pencintraan
*Biaya honor dan upah kerja tim sukses
*Biaya mengikat komunitas tertentu
*Biaya memasuki hari kampanye (spanduk, iklan pariwara, baliho, ucapan
  selamat,dsb.)
*Biaya juru foto pribadi
*Biaya akomodasi
*Biaya supir pribadi
*Biaya iuran lembaga survai
*Biaya iuran lembaga hitung cepat (quik count)
*Biaya “serangan fajar” alakadarnya
*Biaya open House di rumah. dll.
Total jumlah ………………………..
Wajar jika Anggota DPRD/DPR semua mengharap balik modal.