Rabu, 10 Desember 2014

Tandingan-tandingan itu


Hal mengenai “tandingan” sudah ada sejak zaman pewayangan , dalam sejarah Indonesia ‘tandingan’ kerap muncul dalam sejarah-sejarah kerajaan. Raja tandingan, ratu tandingan, sampai bupati tandingan itu sudah ada. Di era perjuangan kemerdekaan RI, ‘presiden tandingan’ pun sudah ada. Dimasa Kemerdekaan juga diteruskan cara-cara ketidak-puasan dengan ‘tandingan. Babak-babak tandingan pun dilanjutkan zaman orde lama, orde baru, dan kini orde reformasi.
Disegi ekonomi hal mengenai ‘tandingan’ ada segi untungnya jika menunjukan persaingan yang sehat lagi pula menguntungkan agar tidak terjadi monopoli. Namun kejadian ‘tandingan ini telah terjadi di berbagai segi kehidupan di Indonesia. Di lingkungan pendidikan, organisasi, pemerintahan, hingga organisasi politik.
Bagaimana di dunia sastra Indonesia? apakah pernah terjadi hal ‘tandingan’ ? Tentu saja ada meskipun tarafnya baru semacam ‘persaingan’
Timbulnya raja ‘kembar’, ratu ‘kembar’ , atau presiden’kembar’ , sampai ketua partai polik kembar adalah akibat ketidakpuasan yang didorong oleh ketidakpuasan lain. Ketidakpuasan itu didorong oleh ambisi , dan “ambisi” bekerja apabila ada dorongan semangat walaupun sedikit, baik itu cita, cinta, sanjungan, materi dan ideologi yang diramu sehingga menjadi ambisius.
Bila kita temukan kejadian ‘tandingan’ di kehidupan sekarang adalah wajar. Kewajaran itu apabila didasari seperti disebutkan tadi , baik itu cita, cinta, sanjungan, materi dan ideologi yang diramu sehingga menjadi ambisius. Tetapi jangan katakan maklum bila tandingan dipengaruhi pihak ketiga . Jika hal ini terjadi maka bukan lagi tandingan dua pihak tetapi melibatkan berbagai pihak. Nah ini repotnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar