Koalisi partai hanyalah kepentingan sesaat.
Biasanya hanya dalam satu event kompetisi, setelah kegiatannya kelar
maka mereka jalan sendiri-sendiri. Kekuatan bertahan sebuah koalisi
bertahan jika memiliki masa kesamaan kepentingan terpelihara andai hasil
dari keterlibatan dalam koalisi itu bersifat adil.
Koalisi yang terdiri dari satu partai besar dengan anggota-anggota partai kecil biasanya akan lebih lama bertahan namun ini pun jika pimpinan koalisi sanggup mengakomodir keinginan anggotanya sehingga merupakan ketergantungan kebutuhan. Dengan kata partai kecil bersedia ikut dalam koalisi asalkan terpenuhi kebutuhannya.
Agaknya kepentingan sesaat bisa diterima sebagai terbentuknya koalisi itu. Bukti ini dapat dilihat ketika Partai Golkar dan PDIP berseberangan di tingkat pusat, di daerah justru P Golkar dan PDIP berkoalisi untuk memenangkan pasangan calon kepala daerah diajang Pilkada.
Koalisi dengan kesamaan ideologis memiliki kemungkinan bersatu. Namun setiap partai politik memiliki idiologinya masing-masing. Jika ada lebih dari satu partai memiliki ideologi yang sama dikarenakan hanya ambisi tokoh-tokohnya yang ingin menjadi pimpinan sehingga mendirikan partai baru. Kesamaan idiologi partai partai baru dari muara yang sama kemudian membedakan diri dengan idiologi induknya meskipun dipandang memiliki kesesuaian idiologi. partai-partai yang walau memiliki kesesuaian idiologi biasanya tak mau bersatu dalam koalisi karena ego elit partainya serta nilai historis pendirian partai itu.
Bukti-bukti itu dapat dilihat pada masa orde lama, orde baru , dan masa reformasi sekarang ini. Partai pecahan yang tak berkembang lebih baik tidak berkoalisi dengan partai ‘induknya’ atau membiarkan partai itu menghilang dengan sendirinya.
Ketika ajang Pemilu Presiden ada dua koalisi besar yang masing-masing mengusung calon presiden dan wakil presidennya. Koalisi Merah Putih (KMP) terdiri dari Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat (PD) , Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Nasional Demokrat (Nasdem) , Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Kedaulatan Bangsa (PKB). Koalisi ini terbentuk atas dasar keinginan memenangkan pemilu presiden dan lebih dari itu bertujuan koalisi dapat duduk terlibat langsung dalam pemerintahan 5 tahun kedepan.
Dinamika kemudian memunculkan KIH sebagai pemenang pemilu presiden dan KMP menyatakan sebagai oposisi. KMP yang menguasai parlemen dan KIH memegang pemerintahan. Nasib koalisi KMP dan KIH pun berkembang pula terutama ketika dihadapkan pada buah koalisi itu. Di KIH banyak anggota koalisi yang tak puas dengan kebijakan presiden teruitama dalam rekrutmen mentri atau pejabat negara. Buah koalisi itu dirasa tidak adil kartena porsi jatah mentri asal partai anggota koalisi sedikit sekali. Kemudian di KMP yang menguasai parlemen saling berebut pimpinan parlemen itu. Di DPR , PPP tak kebagian jatah pimpinan DPR. P Gerindra dan PPP sebagai pimpinan koalisi tak dapat kursi pimpinan MPR. Ketua DPR berhasil diraih P Golkar dan Ketua MPR diraih P Demokrat. Kekecewaan pun akhirnya pada PPP yang tak mendapat kursi pimpinan DPR dan MPR.
Buntut buah koalisi bagi mereka partai anggota koalisi yang merasa tidak diperlakukan adil itu akan menimbulkan benih-benih perpecahan. Kadar kekecewaan biasanya berasal dari ketidak-adilan pembagian buah koalisi. Kekecewaan anadai tak segera diobati akan menimbulkan perpecahan dari sebuah koalisi. Baik di KMP yang menguasai parlemen dan KIH yang menguasai pemerintahan semua sama-sama rawan perpecahan.
Lambat laun koalisi pun akan berakhir dan anggota koalisi akan jalan sendiri-sendiri. Sebentar lagi ajang Pemilihan Kepala Daerah akan dilaksanakan , keanggotaan koalisi didaerah akan berbeda dengan di pusat mengingat kepentingan yang berbeda. Partai politik di daerah menyiapkan strateginya untuk menggolkan calonnya masing-masing. Koalisi pun akhirnya bersifat tawar. Siapapun bisa diajak bergabung atau putus dan menjadi lawan koalisi.
Koalisi partai di Indonesia , sebuah negara dimana rakyanya masih mengutamakan segi ekonomis dan penghargaan status sosial , dapat dikatakan hanyalah koalisi jangka pendek dan tak mungkin permanen. Baik KMP dan KIH sama memiliki potensi bubar.
Kemudian mendekati jelang 2019 nanti semua partai akan mempersiapkan untuk membesarkan partainya masing-masing . Koalisi hanyalah sesaat selama kesamaan kepentingan belum tercapai. Pada akhirnya tak ada koalisi-koalisian.
Rg Bagus Warsono 10-12-14
Koalisi yang terdiri dari satu partai besar dengan anggota-anggota partai kecil biasanya akan lebih lama bertahan namun ini pun jika pimpinan koalisi sanggup mengakomodir keinginan anggotanya sehingga merupakan ketergantungan kebutuhan. Dengan kata partai kecil bersedia ikut dalam koalisi asalkan terpenuhi kebutuhannya.
Agaknya kepentingan sesaat bisa diterima sebagai terbentuknya koalisi itu. Bukti ini dapat dilihat ketika Partai Golkar dan PDIP berseberangan di tingkat pusat, di daerah justru P Golkar dan PDIP berkoalisi untuk memenangkan pasangan calon kepala daerah diajang Pilkada.
Koalisi dengan kesamaan ideologis memiliki kemungkinan bersatu. Namun setiap partai politik memiliki idiologinya masing-masing. Jika ada lebih dari satu partai memiliki ideologi yang sama dikarenakan hanya ambisi tokoh-tokohnya yang ingin menjadi pimpinan sehingga mendirikan partai baru. Kesamaan idiologi partai partai baru dari muara yang sama kemudian membedakan diri dengan idiologi induknya meskipun dipandang memiliki kesesuaian idiologi. partai-partai yang walau memiliki kesesuaian idiologi biasanya tak mau bersatu dalam koalisi karena ego elit partainya serta nilai historis pendirian partai itu.
Bukti-bukti itu dapat dilihat pada masa orde lama, orde baru , dan masa reformasi sekarang ini. Partai pecahan yang tak berkembang lebih baik tidak berkoalisi dengan partai ‘induknya’ atau membiarkan partai itu menghilang dengan sendirinya.
Ketika ajang Pemilu Presiden ada dua koalisi besar yang masing-masing mengusung calon presiden dan wakil presidennya. Koalisi Merah Putih (KMP) terdiri dari Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat (PD) , Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Nasional Demokrat (Nasdem) , Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Kedaulatan Bangsa (PKB). Koalisi ini terbentuk atas dasar keinginan memenangkan pemilu presiden dan lebih dari itu bertujuan koalisi dapat duduk terlibat langsung dalam pemerintahan 5 tahun kedepan.
Dinamika kemudian memunculkan KIH sebagai pemenang pemilu presiden dan KMP menyatakan sebagai oposisi. KMP yang menguasai parlemen dan KIH memegang pemerintahan. Nasib koalisi KMP dan KIH pun berkembang pula terutama ketika dihadapkan pada buah koalisi itu. Di KIH banyak anggota koalisi yang tak puas dengan kebijakan presiden teruitama dalam rekrutmen mentri atau pejabat negara. Buah koalisi itu dirasa tidak adil kartena porsi jatah mentri asal partai anggota koalisi sedikit sekali. Kemudian di KMP yang menguasai parlemen saling berebut pimpinan parlemen itu. Di DPR , PPP tak kebagian jatah pimpinan DPR. P Gerindra dan PPP sebagai pimpinan koalisi tak dapat kursi pimpinan MPR. Ketua DPR berhasil diraih P Golkar dan Ketua MPR diraih P Demokrat. Kekecewaan pun akhirnya pada PPP yang tak mendapat kursi pimpinan DPR dan MPR.
Buntut buah koalisi bagi mereka partai anggota koalisi yang merasa tidak diperlakukan adil itu akan menimbulkan benih-benih perpecahan. Kadar kekecewaan biasanya berasal dari ketidak-adilan pembagian buah koalisi. Kekecewaan anadai tak segera diobati akan menimbulkan perpecahan dari sebuah koalisi. Baik di KMP yang menguasai parlemen dan KIH yang menguasai pemerintahan semua sama-sama rawan perpecahan.
Lambat laun koalisi pun akan berakhir dan anggota koalisi akan jalan sendiri-sendiri. Sebentar lagi ajang Pemilihan Kepala Daerah akan dilaksanakan , keanggotaan koalisi didaerah akan berbeda dengan di pusat mengingat kepentingan yang berbeda. Partai politik di daerah menyiapkan strateginya untuk menggolkan calonnya masing-masing. Koalisi pun akhirnya bersifat tawar. Siapapun bisa diajak bergabung atau putus dan menjadi lawan koalisi.
Koalisi partai di Indonesia , sebuah negara dimana rakyanya masih mengutamakan segi ekonomis dan penghargaan status sosial , dapat dikatakan hanyalah koalisi jangka pendek dan tak mungkin permanen. Baik KMP dan KIH sama memiliki potensi bubar.
Kemudian mendekati jelang 2019 nanti semua partai akan mempersiapkan untuk membesarkan partainya masing-masing . Koalisi hanyalah sesaat selama kesamaan kepentingan belum tercapai. Pada akhirnya tak ada koalisi-koalisian.
Rg Bagus Warsono 10-12-14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar